Ke Hadarim Menjenguk Barghuti

Fadwa Barghuti hanya bisa menjenguk suaminya dua pekan sekali. Itu pun cuma 45 menit.

Selasa adalah saat yang paling ditunggu oleh Fadwa Barghuti. Di hari itulah, tiap dua pekan, ia bisa menjenguk suaminya, Marwan Barghuti, yang kini mendekam di penjara Israel.

Momen indah itu pun kembali datang Selasa lalu. Ibu empat anak – Qassam, Syaraf, Arab, dan Rub’ah – ini meninggalkan rumahnya di Ramallah, Tepi Barat, pukul 6 pagi. Tak banyak barang yang ia bawa, hanya dua buku yang dipesan suaminya, yakni soal Dewan Legislatif Palestina (PLC) dan sejarah perjuangan Palestina.

Fadwa, 43 tahun tak sendirian. Ia pergi ke Penjara Hadarim, Nataniyah, sekitar enam kilometer dari Kota Tel Aviv, bersama perempuan Palestina lainnya. Di sanalah Barghuti bersama 130 tahanan Palestina menjalani hukuman. Total ada delapan bus yang disediakan Palang Merah Internasional: masing-masing empat bus berangkat dari Ramallah dan Jenin.

Barghuti, 48 tahun, divonis lima hukuman penjara seumur hidup ditambah 40 tahun karena dianggap mendalangi lima serangan ke wilayah Israel. Ia baru menjalani 5 tahun. Sebelumnya, selama 3,5 tahun ia dikurung di sel isolasi berukuran 2×1,5 meter persegi: enam bulan di Penjara Ar-Ramla, dekat Bandara Ben Gurion, dan sisanya di Ber Sheva.

Pemimpin intifadah Palestina pada 1985 dan 2000 ini ditangkap pada 15 April 2002. Lelaki kelahiran Desa Khobar, Ramallah, ini sempat bersembunyi setelah lolos dari dua usaha pembunuhan.

Meski dipenjara, Barghuti tetap mempengaruhi perkembangan politik di Palestina. Dialah yang meyakinkan pelbagai faksi di Palestina untuk bergencatan senjata dengan Israel. Ia pula yang memprakarsai the National Document of the Prisoners yang melahirkan pemerintahan koalisi Hamas dan Fatah pada Februari 2007.

Sejatinya, jarak Ramallah – Hadarim bisa dicapai dalam satu jam. Namun waktu tempuh itu molor lantaran banyak pos dan ketatnya pemeriksaan yang harus dilewati. “Akibatnya memakan waktu empat jam untuk sampai ke sana,” kata Fadwa saat dihubungi Tempo melalui telepon selulernya Kamis lalu.

Ia pun selalu merasa waktu berkunjung yang diberikan sangat kurang. “45 menit tak cukup mengobati kerinduan kami sekeluarga,” ia mengeluhkan. Apalagi, pihak berwenang Israel mengizinkan Fadwa saja yang boleh berkunjung, Sedangkan dua anak lelakinya dilarang lantaran sudah melewati batas usia maksimal 18 tahun yang disyaratkan hukum negara Yahudi itu. Hanya Rub’ah, putri satu-satunya yang boleh bertemu Barghuti. Itu pun cuma empat kali setahun.

Pertemuan berlangsung di sebuah ruang khusus yang dijaga ketat. Fadwa sama sekali tak bisa memeluk, ataupun mencium tangan suaminya. Ia hanya bisa menyaksikan suaminya berseragam penjara serba coklat dari balik kaca yang memisahkan mereka. Percakapan pun dilakukan lewat telepon. “Ia selalu menanyakan kabar anak-anak dalam dua pekan terakhir dan kondisi rakyat Palestina,” ujarnya.

Sekarang sudah lima kali puasa, Fadwa tanpa Barghuti. Selama itu pula, ia tak pernah ditelepon Barghuti. Suaminya hanya diizinkan memberi kabar lewat surat yang ditulis oleh tiga pengacaranya ketika mereka berkunjung. Meski begitu, ia terus berdoa meski kemungkinan suaminya bebas sangat kecil. Ia juga tak menyesal bersuamikan lBarghuti yang selalu menjadi incaran Israel. “Saya bangga karena ia berjuang demi kemerdekaan rakyat Palestina.”

Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s