Jangan Ragukan Komitmen Obama Atas Israel

Oleh: Faisal Assegaf

Pemilihan presiden Amerika Serikat kian dekat. Kedua calon, Presiden Barack Hussein Obama dari Partai Demokrat dan Mitt Romney asal Republik pekan lalu sudah memulai debat terbuka, disiarkan langsung melalui televisi secara nasional. Dari sekian banyak isu, kebijakan Gedung Putih terhadap Israel, menjadi agenda paling disorot.

Barangkali banyak rakyat Israel atau kelompok-kelompok lobi Yahudi di Amerika kecewa dengan kebijakan Obama selama dia berkuasa. Mereka beranggapan presiden kulit hitam pertama itu tidak sungguh-sungguh mendukung kepentingan Israel di Timur Tengah, terutama mengenai perdamaian dengan Palestina dan nuklir Iran.

Memang benar dalam sejumlah kesempatan, Obama menunjukkan sikap lebih pro-Palestina dan dunia Arab yang menjadi musuh bebuyutan rezim Zionis. Ketika berpidato di Universitas Kairo, Mesir, dia mengajak negara-negara Arab dan berpenduduk mayoritas muslim membuka lembaran baru untuk membina hubungan dengan Amerika. Obama bahkan memuji azan sebagai suara paling merdu yang pernah ia dengar.

Ajakan ini mnuncul di tengah kian merosotnya citra Israel di mata masyarakat internasional. Negara Bintang Daud ini terus mendapat kecaman setelah membombardir Jalur Gaza setengah tahun sebelumnya. Protes kian pedas setelah tim pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyimpulkan Israel telah melakukan kejahatan perang dalam agresi 22 hari itu.

Pembentukan tim ini oleh Dewan Hak AsasiĀ  PBB merupakan tonggak bersejarah. Sebab, untuk pertama kali lembaga internasional ini memerintahkan penyelidikan dugaan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan terhadap perang dilakoni oleh negara Bintang Daud itu. Hebatnya lagi, komite itu diketuai oleh jaksa keturunan Yahudi dari Afrika Selatan, Richard Goldstone.

Obama juga mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghentikan proyek permukiman Yahudi di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Tuntutan ini sejalan dengan syarat utama diajukan oleh Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas buat kembali duduk semeja dengan Netanyahu. Perundingan langsung antara kedua pemimpin bertikai itu sempat bergulir lagi lima tahun lalu setelah mandek akibat meletupnya intifadah kedua tahun 2000.

Sejatinya, pembangunan perumahan buat warga Yahudi itu melanggar hukum internasional. Apalagi, status Yerusalem Timur belum diputuskan apakah sah milik Palestina atau Israel. Meski begitu, Knesset (parlemen Israel) pada September 1980 mengesahkan Hukum Dasar Yerusalem. Beleid ini menyatakan Yerusalem adalah ibu kota abadi Israel dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina.

Presiden ke-44 Amerika ini juga dipandang bersikap lembek menangani isu senjata pemusnah massal Iran. Dia lebih mengedepankan pendekatan diplomatik dibarengi sanksi ekonomi sekaligus militer buat menekan negara Persia itu. Dia tidak menyetujui rencana serangan Israel terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran, meski Netanyahu sudah mengumumkan tenggat terakhir buat bersabar menyikapi krisis itu. Saat berpidato di sidang Majelis Umum PBB bulan lalu, politikus dari Partai Likud ini menegaskan lagi sanksi terhadap Negeri Mullah itu tidak berpengaruh.

Amerika bersama Israel memang meyakini Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun berkali-kali pula, sejumlah pemimpin di Teheran membantah tudingan itu. Mereka menegaskan proyek nuklir itu buat kepentingan energi.

Paling anyar Obama menolak permintaan Netanyahu buat bertemu empat mata membahas persoalan nuklir Iran. Dia beralasan sibuk berkampanye dan akhirnya kedua pemimpin itu membahas sejumlah agenda melalui telepon selama sepertiga jam.

Tapi jangan dulu tertipu, Obama tidak benar-benar melanggar komitmennya terhadap Israel. Pernyataan dan sikapnya bukan berarti dia bermusuhan dengan negara Yahudi itu. Dia menganggap hasil penyelidikan tim pencari fakta PBB terlalu menyudutkan Israel. Sebab itu, dia menolak rekomendasi komite itu agar Dewan Keamanan bisa membawa kasus itu ke Mahkamah Kejahatan Internasional di Den Haag, Belanda.

Obama juga tidak sepakat dengan langkah Abbas meminta pengakuan secara sepihak kepada PBB atas negara Palestina. Dia lebih mendorong terwujdunya kemerdekaan Palestina melalui perundingan antara Palestina dan Israel.

Tentu saja hal itu bisa dikatakan mustahil. Negosiasi di antara kedua pihak kerap mentok di tiga isu utama, yakni perbatasan sebelum 1967, pemulangan pengungsi Palestina, dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina. Tel Aviv menuntut kalau memang Palestina merdeka, mereka tidak boleh memiliki angkatan perang agar keamanan Israel terjamin.

Obama memang menolak pembangunan permukiman Yahudi, tapi dia tidak bisa memaksa Netanyahu membongkar seluruh permukiman ilegal itu di Tepi Barat. Obama juga tidak mendesak Israel merobohkan Tembok Pemisah. Dinding pembatas ini sudah dibangun sejak satu dekade lalu dan bakal melalui seluruh wilayah di Tepi Barat. Panjangnya lebih dari 750 kilometer.

Dia juga tidak bersuara mengenai pos pemeriksaan, dan barikade yang menghambat mobilitas warga Palestina di seantero Tepi Barat. Ia tidak pula menuntut Netanyahu segera mengakhiri blokade terhadap Jalur Gaza yang telah menciptakan krisis kemanusiaan di wilayah berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa itu.

Dia ikut mendorong agar piagam Partai Demokrat memasukkan kembali pengakuan soal Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dia tetap mempertahankan undang-undang yang mewajibkan Gedung Putih memindahkan kedutaan besar mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem. Hingga saat ini, akta itu belum dilaksanakan karena isu itu sangat sensitif dan bisa berdampak amat serius.

Obama juga menerapkan standar ganda terkait isu nuklir Iran. Dia tidak memberlakukan sanksi ekonomi dan militer atas Israel yang jelas-jelas telah memiliki senjata nuklir. Bahkan, bekas ahli nuklir yang bekerja di reaktor Dimona di selatan Israel, Mordechai Vanunu, mengungkapkan negara Bintang Daud itu mempunyai setidaknya 200 bom atom. Karena membocorkan program rahasia itu pada 1986, Vanunu ditahan 18 tahun. Dia akhirnya bebas bersyarat tidak boleh meninggalkan Israel.

Ironisnya lagi, Obama menjadi presiden pertama Amerika yang membangun gudang senjata di Israel setahun setelah dia terpilih. Tel Aviv cukup memberi tahu saja tanpa perlu izin buat menggunakan semua senjata dan amunisi di gudang itu.

Jadi silang pendapat antara Obama dan Netanyahu tidak sampai menyentuh inti masalah. Alhasil, jangan pernah meragukan kesetiaan Obama buat membela kepentingan Israel.

Dimuat di Jurnal Nasional, 16 Oktober 2012

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s