Jamaah harus antri dalam satu barisan untuk diperiksa dengan sinar X.
Jumat boleh jadi hari yang paling menyebalkan bagi warga muslim di Yerusalem. Maklum, beberapa tahun belakangan, mereka sangat sulit untuk shalat Jumat di Masjid Al-Aqsha lantaran tentara Israel memperketat pengamanan di sana.
Jangankan warga Palestina biasa, seorang imam besar Masjid Al-Aqsha pun sangat sulit shalat di tempat suci ketiga umat Islam setelah Masjid Al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah itu. “Antrian masuk ke masjid bisa 1-2 jam,” kata Ismail Mawahda, salah seorang imama besar Al-Aqsha, kepada Tempo di sela-sela acara Konferensi Internasional Cendekiawan Islam, Jakarta, Kamis pekan lalu.
Bayangkan saja, seluruh jamaah harus antri dalam satu barisan untuk diperiksa melalui pintu yang dilengkapi sinar X. Serdadu Israel yang menjaga ketat kompleks masjid seluas 35 are itu hanya mengizinkan masuk orang Palestina berusia di atas 40 tahun.
Karena itu tidak mengherankan jika Ismail berangkat empat jam sebelum datang waktu shalat Jumat. Padahal jarak rumahnya dengan Al-Aqsha hanya 15 menit bermobil. Lelaki 62 tahun ini tinggal di Ramallah, bersebelahan dengan kediaman Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas dan Perdana Menteri Salam Fayyad. Ia sudah menetap di sana 25 tahun.
Itu pun ia sering terlambat karena sepanjang jalan harus melewati empat pos pemeriksaan. Alhasil, tugasnya sebagai khatib digantikan oleh orang lain. Al-Aqsha yang dapat menampung hingga 400.000 jika seluruh halaman digunakan memiliki empat imam besar dan lima khatib Jumat. Mereka diangkat oleh pemerintah Kerajaan Yordania dan tidak mempunyai masa jabatan tertentu.
Ismail menjadi imam besar sekaligus khatib sejak 1984. Dalam sepekan, ia bisa 3 – 4 kali shalat di Al-Aqsha, masjid yang dibangun di masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada 646 – 705. Meski hafal isi Al-Quran, ia tidak mempunyai surat favorit untuk dibaca dalam shalat. “Bagi saya, semua surat sama,” ujar kakek 10 cucu ini.
Meski posisi ini sangat membanggakan, risikonya juga tak kalah besar. Setidaknya, pria kelahiran Jenin, Tepi Barat, ini sudah sepuluh kali diperiksa tentara Israel karena isi khotbahnya dianggap menyinggung negara Zionis itu. Karena itu, ia selalu menyampaikan pesan secara tersirat yang menyerukan warga Palestina terus berjuang dan meminta dukungan negara-negara Arab dan muslim.
Namun bukan itu yang membuat Ismail bersedih. “Saya kadang menangis jika ingat orang kafir bebas memasuki Al-Aqsha,” katanya. Meski begitu, ayah 11 anak ini bertekad menjadi imam selagi fisiknya masih mampu.
Faisal Assegaf




Gambarmu itu betul Al-Aqsha, mas? Tolong dicek lg. Terimakasih
By: Abu Himda on July 20, 2009
at 11:18 pm
Thanks buat sarannya. Setahu saya ada dua masjid dalam kompleks Al-Aqsha. Yang berkubah hijau disebut Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock) yang didirikan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sedangkan Masjid Al-Aqsha adalah yang berkubah berlapis emas warna kuning.
By: Faisal Assegaf on July 21, 2009
at 11:02 am
Ass.Wr.Wb maaf mas Faisal, itu setahu saya bukan al Aqsha, tapi Dome of rock, masjid Al – Aqsha kubanya tidak berwarna emas melainkan sudah berwarna hijau kehitam – hitaman…
mungkin link ini bisa membantu
http://nizhaam.wordpress.com/2009/07/10/qubbah-ash-shakhra-bukanlah-masjid-al-aqsha/
By: farizandy on October 10, 2009
at 10:27 pm
THanks Fariz. Emang benar masjid Al-Aqsha kubahnya hijau. Foto itu saya pakai untuk ilustrasi tulisan karena masjid umar atau kubah batu sama-sama berada satu kompleks di Haramain as-Syarif.
By: Faisal Assegaf on October 11, 2009
at 2:17 pm